Oleh: birusamudera | Januari 13, 2010

Ah… Silahkan Duduk, Nara

Sering kali rumah adalah tempat terbaik untuk menyimpan berbagai hal yang seseorang miliki. Selalu malah. Mungkin seperti itu bagi sebagian besar orang. Juga setidaknya bagiku. Kamu tahu itu kan, Nara.

Aku menyimpan setiap wujud dan bayangan. Di setiap sudut dan ruangan. Aku akan menyalakan pelita setiap kali aku perlu membacanya. Sebagian atau seluruhnya.

Pelita, Nara. Karena apa yang aku baca sesungguhnya adalah cahaya. Entah yang memantul. Entah yang membias. Yang berbaris dalam urutan warna, yang bernama pelangi. Atau yang seperti kilat, yang hanya datang pergi secepatnya dan sering mengejutkan.

Di sinilah, kita akan bisa memaknai setiap larik cahaya yang tertangkap. Titik demi titiknya, membentang jadi terang.

Kenapa termenung, Nara? Apakah engkau bingung karena rumah ini terlalu sunyi? Tanpa hingar bingar. Tanpa koar-koar seperti yang dipekikkan oleh corong-corong radio atau televisi.

Biarlah semua itu hanya mondar-mandir di luar sana. Toh akan selalu bisa kita cerna dalam setiap perjalanan kita berangkat dan pulang kerja. Semua akan mengkristal, dari setiap tetes keringat kita yang mengalir, lalu mengering.

Dan di setiap kepulanganku ke rumah ini, aku akan membiarkan semua itu mengendap dalam sebuah perenungan. Dalam sunyi itu tentunya. Sering kali ditemani oleh secangkir kopi, dan sesekali ikut serta pula sebatang rokok. Pada akhirnya semua itu akan menjadi sebuah kenikmatan. Karena hidup sesungguhnya memang indah.

Jadi Nara, apa yang bisa kau dengar di sini hanyalah madah-madah. Sesekali dalam lantun kidung puja-puji, kepada Yang Menghadirkan kita dalam kehidupan ini. Yang Maha Memelihara segalanya. Jika ingin, kau pun bisa turut mendendangkannya.

Ah… silahkan duduk, Nara. Maaf karena terlalu lama membiarkanmu berdiri.

Yah… inilah rumahku. Tempat di mana aku dibesarkan. Rumah yang menuntun dan melindungiku dari kerdil dunia. Jika pada akhirnya engkau memutuskan untuk turut menetap, engkau telah tahu harus ke mana. Rumahku tak akan pernah beranjak, Nara. Di sini. Di hatiku.

Jakarta, 14 Januari 2010

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | Januari 13, 2010

Guru Beruang & Master Hiu

Apa yang benar-benar pantas untuk kita sombongkan sebagai manusia jika untuk sebuah hal kecil saja kita harus belajar pada sekawanan hewan buas seperti ikan hiu atau beruang? Pertanyaan ini sempat mengusik diri saya dikarenakan beberapa hal atau peristiwa yang sempat saya lihat dan dengar.

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menonton sebuah program dokumenter di saluran National Geographic. Di situ diceritakan mengenai beberapa penyelam dan peneliti yang akan melakukan penelitian tentang ikan hiu. Yang membuat saya kagum adalah, mereka sama sekali tidak menggunakan peralatan pengaman berupa kurungan atau kerangkeng, yang dapat melindungi diri mereka dari serangan ikan hiu yang terkenal ganas.

Satu per satu, para penyelam memasuki kedalaman air. Perlahan dan hati-hati, mereka mendekati sebuah titik di dasar laut yang berkarang. Nampak segerombolan ikan hiu dari berbagai jenis, yang sepengetahuan saya semuanya termasuk jenis hiu karang. Hiu karang ini memang berhabitat di laut dangkal, perairan pantai, atau perairan berkarang.

Terlihat banyak. Jelas lebih dari jumlah semua jari di tangan manusia normal. Beberapa ekor nampak tenang, tak banyak bergerak di dasar laut. Rupanya itu adalah dari jenis hiu buto alias Tawny Nurse Shark (Nebrius Ferrugineus), yang cenderung kalem dan tidak agresif. Saya sendiri pernah secara langsung merekam gambar hiu jenis ini dalam sebuah kolam di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Beberapa ekor lagi nampak berenang, melayang-layang, dan berputar-putar. Karena terlalu takjub dengan gambarnya, saya tidak begitu menyimak apa yang diceritakan oleh si narator. Tapi seingat yang saya lihat, itu adalah hiu jenis Blacktip atau Whitetip Reef. Masih hiu karang juga, tapi yang ini lebih agresif terhadap mangsanya. Nampak juga satu dua ekor hiu martil (Hammerhead) yang aktif berkeliling. Bahkan salah satunya melahap seekor ikan hiu yang sedang sekarat akibat kalah berkelahi dengan sesamanya.

Yang mencengangkan adalah, semua penyelam menyaksikan hiu-hiu itu dari jarak sangat dekat. Apalagi di bagian terakhir film itu, diperlihatkan bagaimana mereka mencoba mendekati seekor hiu putih (Great White Shark), yang terkenal sebagai hiu pemangsa yang paling ganas dan ukuran badannya termasuk paling besar dibandingkan hiu yang lain. Hanya berbekal tongkat pendek, yang disentuhkan ke moncong hiu itu jika ia mendekat untuk mendeteksi keberadaan penyelam di dekatnya. Lama-kelamaan hiu tadi terbiasa dan para penyelam bisa berenang di dekatnya, bahkan beberapa orang berhasil mengelus perut ikan hiu itu saat melintas di atas mereka. Dari dokumenter itu pula saya jadi tahu bahwa daging manusia sebenarnya tidak termasuk dalam menu makanan pilihan hiu-hiu itu. Dalam kasus-kasus penyerangan terhadap manusia ternyata hiu sekedar “mencicipi” akibat adanya rangsangan tertentu. Salah satunya adalah bau darah.

Saya mencoba mengaitkan cerita tadi dengan apa yang tengah dialami oleh seorang sahabat. Sudah beberapa tahun saya tidak berjumpa dengan sahabat yang satu ini karena rentang jarak. Maklum, saat ini kami memang tinggal berlainan kota. Dan beberapa waktu yang lalu kami berhasil menyambung komunikasi lewat dunia maya.

Ternyata acara chatting itu malah dijadikan sebagai ajang curhat. Ia sedang kebingungan menghadapi ibu mertuanya, yang menuntut banyak hal dari suaminya. Materi, mau pun non materi. Sementara mereka berdua juga memiliki keterbatasan dan kebutuhan keluarga sendiri. Apalagi ditambah dengan kelahiran putra kedua mereka. Ia sudah mencoba untuk membicarakannya, tetapi sang suami tidak terlalu suka jika masalah dengan ibu mertuanya itu diungkit-ungkit. Makin bingunglah sahabat saya ini menghadapi situasi seperti itu.

Saya sendiri, juga ikut kebingungan setelah mendengar keluhannya itu. Merasa canggung karena bagi saya, masalah keluarga seperti itu tidak semestinya diceritakan kepada orang luar seperti saya. Juga karena saya tidak tahu harus memberi saran apa. Wong saya sendiri belum punya pengalaman berkeluarga. Dan setahu saya, di dalam Islam, seorang ibu memiliki kedudukan dan hak yang lebih terhadap anak lelakinya, dibanding seorang istri terhadap suaminya. Apalagi ibu mertua sahabat saya itu sudah lama ditinggal mati ayah mertua. Sementara kehidupan serta nafkah sehari-harinya bertumpu dari pemberian sang anak. Alhasil, saya hanya bisa berusaha menghibur dan membesarkan hati sahabat saya tadi.

Malamnya, di hari yang sama, saya menelpon seorang sahabat lainnya yang kini menetap di Pulau Dewata. Setelah membicarakan banyak hal, saya pun menceritakan kasus tadi dan mencoba meminta pendapatnya. Ia pun sepandangan dengan saya mengenai kedudukan sang ibu, anak lelaki, dan istri. Malah jika dipraktikkan mentah-mentah − secara saklek kalau orang jawa bilang − untuk urusan pendapatan misalnya, si anak menyerahkan terlebih dulu kepada ibunya. Setelah ibunya mengambil sesuai dengan yang dibutuhkan, barulah sisanya diperuntukkan bagi si anak dan keluarganya.

“Tapi toh kenyataannya, terutama saat ini, tidak seperti itu juga. Karena dalam hubungan antar manusia, ada yang namanya komunikasi dan negosisasi,” begitu sahabat saya melanjutkan.

Dan di sinilah letak tantangan dan seninya. Pada bagaimana cara kita mendekati orang lain dan mengkomunikasikan secara baik mengenai apa yang kita harapkan darinya. Dalam kasus sahabat saya di atas, berarti bagaimana dia bisa meluluhkan hati ibu mertuanya agar mau juga mengerti kondisi yang harus dijalani keuarganya. Tidak sendirian tentunya, si suami pun harus ikut membantu dan juga berkomunikasi langsung dengan sang ibu. Bisa jadi butuh beberapa tahapan. Bisa jadi juga memakan waktu yang panjang. Tapi, apa yang bisa dicoba jika sama sekali tidak ada yang kita mulai.

Lalu apa kaitannya dengan hiu-hiu tadi? Mungkin akan lebih jelas setelah saya ceritakan isi film dokumenter lainnya yang belum lama ini saya beli dan tonton. Judulnya “Grizzly”. Salah satu episode dari serial Wildlife Specials produksi BBC.

Adalah Jeff Turner, seorang pembuat film asal Kanada. Ia telah menghabiskan 15 tahun terakhir hidupnya untuk mempelajari karakter beruang Grizzly, si beruang ganas berbulu coklat yang banyak ditemukan di wilayah Amerika Utara. Karnivora besar yang kuat, cepat, dan banyak akal. Dengan bobot sekitar 500 kg, ia bisa berlari secepat lari seekor kuda saat memburu mangsanya.

Grizzly adalah binatang yang cenderung individual dan soliter. Tapi Turner menemukan bahwa grizzly juga memiliki sisi lembut dan toleran terhadap kehadiran dirinya sebagai manusia. Dalam film itu Turner mengajarkan bagaimana caranya agar bisa berada sedekat mungkin dengan grizzly. Dan memang menakjubkan, melihat ia dengan santai mengambil gambar di tengah beberapa ekor beruang yang sedang berburu dan berpesta ikan salmon di sebuah sungai. Atau begitu dekatnya ia dengan dua ekor beruang, induk dan anaknya yang berusia remaja, yang sedang memakan pucuk-pucuk rerumputan. Bahkan salah satu grizzly itu mendekati kamera Turner dan menciumi lensanya.

Ah… hiu dan beruang yang buas pun, yang tindakan-tindakan mereka lebih dikarenakan oleh insting dan kebiasaan, memiliki sebuah sisi yang bisa mengantarkan kita untuk berada sangat dekat dengan mereka. Berarti demikian juga dengan manusia yang dibekali dengan nurani dan juga akal. Pasti juga mempunyai sisi atau celah, yang bahkan tidak hanya satu, untuk kita masuki agar kita bisa saling memahami.

Lalu apa yang menghalangi kita hingga kita tidak bisa melakukannya? Ada banyak hal. Ego kita yang begitu besar. Ketakutan yang tidak wajar akan hal yang tengah kita hadapi, sama seperti pikiran kita yang dipenuhi ketakutan akan keganasan hiu dan beruang. Keengganan. Banyak hal. Banyak faktor dan variabel. Dan sering kali kita membiarkan diri kita terkungkung dengan itu semua.

Sebuah kutipan panjang dari kata-kata Jeff Turner di penghujung film tadi, “Ketika aku bertemu beruang ini 13 tahun yang lalu, aku hanya tahu sedikit tentang grizzly. Hanya tahu mereka bisa berbahaya. Tapi aku belajar alangkah lembut dan tenangnya grizzly. Jadi ketika ia mendatangiku, aku tidak takut. Dari ratusan pertemuan dengan mereka selama bertahun-tahun, apa yang paling mengesankanku adalah toleransi mereka. Aku merasa sering diterima di dunia mereka. Dengan membiarkan aku dekat, aku jadi kagum karena menyadari bahwa beruang seperti kita. Mereka semua individu dengan berbagai karakter. Memang mudah melihat dalam diri mereka, cerminan dari kehidupan kita. Namun ketakutan kita menghalangi kita untuk menghargai kesamaan itu. Seperti kata orang, bahwa kita hanya melindungi apa yang kita sayangi, dan kita hanya menyayangi apa yang kita pahami. Aku tak ingin hidup di dunia tanpa grizzly. Jadi aku berharap agar kita semua memulai untuk memahami. Berbagai wajah dari hewan yang indah ini.”

Bandung, 17 November 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | November 7, 2009

Seperti Ini Kiranya

Baca saja cintaku seperti ini: “Keberadaanmu adalah kerja, doa, dan pengharapan tak kenal henti. Demikian juga ketiadaanmu. Tak mesti mengurangi satu apapun. Karena sesadarku, cintaku tersalin dari cinta-Nya. Dan akan kembali kepada-Nya.”

Yogya – Jakarta, 30 Oktober 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | November 6, 2009

Kehilangan Garam

Seusai sholat shubuh kemarin, saya merasa ingin sedikit santai dan bermalas-malasan di kos. Saya berencana untuk masuk kantor siang hari saja, selepas sholat dzuhur. Hari-hari yang saya lewati dalam dua minggu belakangan, begitu menguras banyak energi. Penuh dengan ketegangan yang benar-benar memacu detak jantung hingga ke ambang batas. Saya dan beberapa rekan ditugaskan untuk membuat sebuah program dokumenter tentang figur Susilo Bambang Yudhoyono, yang akan ditayangkan khusus pada hari pelantikan beliau sebagai Presiden RI masa jabatan 2009-2014.

Waktu yang sempit, ditambah pula dengan kesulitan menembus sejumlah narasumber yang sebagian besar merupakan petinggi-petinggi nomer wahid di negara ini, lalu mencari dan mengumpulkan kaset-kaset dokumentasi liputan beberapa tahun yang lalu, revisi berulang-ulang pada naskah dan editan, dan puncaknya adalah adanya kerusakan pada alat edit yang muncul justru pada menit-menit terakhir mendekati waktu tayang. Benar-benar menguras adrenalin. Melelahkan, tapi tetap merupakan sebuah pengalaman yang berharga.

Maka saya memutuskan untuk menghabiskan pagi itu dengan menonton film. Saya pun mengobrak-abrik koleksi film yang saya miliki. Mata saya tertumbuk pada setumpuk vcd film Life of Mammals, sebuah karya dokumenter produksi BBC yang ditulis dan dibawakan oleh David Attenborough. Film ini terdiri dari 10 episode yang bercerita tentang kehidupan beragam binatang mamalia di muka bumi. Episode yang saya pilih berjudul Plant Predators. Isinya tentang binatang-binatang mamalia yang menjadikan tetumbuhan sebagai sumber makanan utamanya.

Awalnya perhatian saya tersita pada tingkah laku binatang-binatang yang terekam oleh kamera. Juga pada rangkaian gambar-gambar indah yang dihasilkan oleh kamerawan-kamerawan sekelas kamerawan BBC. Hingga pada suatu segmen, cerita berpindah ke sebuah gua yang terdapat di Gunung Elgon, Afrika Timur. Pada dinding-dinding gua tersebut terdapat goresan-goresan. Orang Eropa yang pertama sampai di gua itu, menduganya sebagai goresan dari kapak orang-orang Mesir kuno yang mencari emas. Lalu, tim liputan BBC memasang kamera infra merah untuk memantau apa yang sebenarnya terjadi di gua itu pada malam hari.

Ketika malam telah luruh dan menjadi sedemikian pekat, nampaklah beberapa pergerakan yang tertangkap di layar monitor. Ternyata beberapa ekor kijang semak berdatangan dan nampak mulai menjilati sesuatu yang berada di tanah. Kemudian datang menyusul seekor banteng dan tak lama berselang, diawali suara yang begitu khas, muncul pula seekor gajah. Nampak gajah itu seperti sedang memeriksa keadaan gua. Begitu dirasanya cukup aman, ia pun memberi tanda dengan suaranya agar kawanannya yang lain, yang berada di luar, masuk ke dalam gua.

Menjadi pertanyaan mengapa kawanan gajah ini bersusah payah mendaki tebing yang curam dan melewati celah-celah pegunungan yang sempit. Adegan selanjutnya menjawab pertanyaan tersebut. Sama seperti kijang, mereka juga memakan sesuatu yang terdapat di tanah. Mengaisnya dengan belalai untuk kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Beberapa bahkan menggaruk-garukkan gadingnya ke dinding dan atap gua untuk mendapatkan bahan makanan itu. Ternyata inilah penyebab dari banyaknya goresan-goresan yang diceritakan di awal. Dan apa yang sebenarnya mereka makan itu? Jawabannya adalah garam.

Garam, salah satu jenis mineral yang tidak didapatkan hewan-hewan itu dari dedaunan atau biji-bijian yang mereka makan. Saya jadi teringat cerita seorang teman yang sama-sama memiliki hobi sebagai pendaki gunung dan penjelajah rimba — malah hobi ini sebenarnya sudah menjadi sumber penghidupannya. Ia mengatakan bahwa di setiap gunung dan hutan, selalu ada sumber mata air yang airnya berasa asin atau payau. Sebagian orang menamakannya inum. Padahal tempat itu terletak jauh dari pantai dan lautan. Sungguh sebuah kebesaran dan kemurahan Alloh swt karena di mata air itulah binatang-binatang yang hidup di dalam hutan dan di sekitar gunung itu, dapat memenuhi kebutuhan akan garam dan mineral-mineral tertentu.

Maka tidak heran ketika teman saya melanjutkan cerita, bahwa ia pernah merasa begitu sangat ketakutan dan seluruh badannya menjadi begitu kaku, saat ia dan beberapa polisi hutan sedang beristirahat di salah satu inum yang terdapat di dalam Taman Nasional Kerinci Seblat. Penyebabnya adalah kemunculan sang raja hutan yang tiba-tiba. Untung saja harimau sumatera itu sekedar ingin menumpang minum, kemudian pergi lagi.

Lalu, apa sebenarnya yang istimewa dari garam ini. Selama ini saya hanya ribut soal garam jika makanan yang saya makan terasa hambar. Tidak terlalu menjadi perhatian saya meskipun nyata-nyata garam menguasai dunia dengan cara menyatu di dalam air laut yang memenuhi sekitar dua pertiga luas permukaan bumi ini. Padahal, dalam sebuah artikel yang saya baca, penyebab dari kekalahan besar pasukan Napoleon saat menyerang Rusia, bukan melulu musim dingin yang menusuk. Penyebab utama lainnya adalah kurangnya pasokan garam. Demikian juga yang terjadi dalam perang sipil di Amerika. Pihak utara dan pihak selatan saling memperebutkan pabrik-pabrik garam yang terletak di Virginia’s Kanawha Valley dan Avery Island, Louisiana. Itu semata demi menjaga kebutuhan masing-masing pihak akan pasokan garam.

Ternyata sebegitu diperlukannya garam oleh manusia, juga mahluk hidup lain tentunya. Garam, secara umum kita kenal sebagai senyawa kimia Natrium Klorida (NaCl). Penjelasan mengapa garam menjadi sangat penting bagi tubuh mahluk hidup, terutama manusia, saya dapatkan setelah membaca sebuah buku karya dr. Tauhid Nur Azhar. Dalam buku itu disebutkan bahwa ion-ion natrium – bekerjasama dengan ion-ion kalium- yang terkandung dalam tubuh kita lah yang membuat syaraf-syaraf di seluruh tubuh kita bisa bekerja dan menyebabkan listrik yang menghantarkan pesan-pesan yang diterima oleh seluruh syaraf ke otak kita. Lalu pesan-pesan itu diolah oleh otak kita dan informasi tentang respon tindakan kita dikirim kembali melalui gelombang listrik ke setiap organ tubuh dan panca indera kita.

Maka setiap kali kita bergerak, tertawa, menangis, senang, sedih, kecewa, kenyang, lapar, kesakitan, dan sebagainya, itu adalah salah satu hasil kerja natrium. Dalam berbagai tindakan dan perasaan kita, Alloh menunjukkan campur tangan-Nya melalui natrium. Subhanallah. Dari benda yang sekecil itu, yang sama sekali tidak terlihat oleh mata, sesungguhnya ada banyak kenikmatan yang kita dapat. Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang bisa kita cerna. Dan pada akhirnya kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Natrium dan garam. Kecil dan sering tidak disadari keberadaannya. Padahal ada di mana-mana. Menyebar di segenap penjuru samudera. Hadir, meski di sebuah tempat sunyi di sebuah gunung. Tapi ia lebih sering dikenal hanya sekedarnya, di seputaran dapur dan meja makan. Tapi sekali lagi, dalam keadaannya seperti itu, ia tetap memberi pelajaran. Bahwa sebagai manusia, adalah semestinya kita membaur di mana pun kita berada. Bersilaturahim dengan orang-orang di sekitar kita. Dan selalu rendah hati tentunya, meskipun itu bisa jadi menyebabkan orang-orang tidak menyadari keberadaan kita di antara mereka. Tetapi sekali waktu kita tidak sedang berada di dekat mereka, mereka akan merasa sangat kehilangan. Kehilangan yang besar. Sama seperti tukang masak atau tukang makan yang akan ribut jika kehilangan garam.

Jakarta, 23 Oktober 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | September 30, 2009

Waras Tidak Waras

“Pak…”

“Ya…. Berangkat?”

Begitu tanyanya pada saya dan teman saya yang menjawabnya bersamaan.

“Iya…”

Sebuah percakapan yang mungkin terdengar aneh di hampir tengah malam itu, sekitar sepuluh hari menjelang lebaran lalu. Entah siapa yang tidak waras jadinya. Yang bertanya, atau yang ditanya. Karena saya dan teman saya itu memakai seragam kerja sebuah stasiun televisi, sementara kantor tempat kami bekerja ada di arah belakang, berlawanan dengan arah kami berjalan. Jadilah sebuah percakapan yang tidak jelas juntrungannya.

Tapi, setidaknya malam itu kami ditakdirkan untuk bertemu lagi karena bagi saya sendiri, rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan sosok si bapak yang satu ini. Dan menjadi rizqi tersendiri baginya karena kami mempunyai kelebihan nasi kotak, yang kami bawa dari sebuah acara di kantor. Nasi kotak itu pun akhirnya berpindah ke tangannya.

Pertemuan pertama saya dengan si bapak – sampai saat ini saya belum pernah tahu namanya – terjadi sekitar dua setengah tahun yang lalu, saat saya mulai menjalani hari-hari awal bekerja di kantor yang sekarang ini. Dari tempat kos, saya biasa berangkat dengan berjalan kaki. Menyusuri gang-gang kecil di sela perkampungan padat yang akan membawa saya keluar mulut gang yang ada di samping kantor. Di salah satu titik yang biasa saya lewati itulah saya bertemu dengannya. Duduk di undakan tembok pagar sebuah rumah, di atas saluran got.

Waktu itu, penampilannya masih seperti orang-orang lain pada umumnya. Pakaiannya nampak bersih. Rambutnya pun tersisir rapi ke belakang. Ketika langkah kaki saya telah mendekati tempatnya duduk itu, ia menengokkan kepalanya ke arah saya. Memperhatikan saya begitu rupa. Dari kepala sampai kaki. Hanya saja, saya merasa ada yang tidak beres dengan tatapannya itu. Seperti ada bagian yang kosong. Jauh. Dalam. Tak terjamah. Meruang begitu saja di salah satu sudut pikirannya.

Ia sama sekali tak melepaskan tatapnya. Dalam kondisi biasa, saya hampir selalu menyapa atau sekedar mengucap kata permisi jika lewat di depan satu atau sekumpulan orang. Tapi saat melihat kondisinya yang seperti itu, saya hanya sekedar tersenyum kepadanya – sebagai sedekah yang paling mudah dan sederhana, begitu orang-orang bilang. Terasa kikuk bagi saya karena ia tak membalas senyum itu. Hanya terus memandangi saya yang lewat di depannya, dengan raut muka yang datar. Tanpa ekspresi. Saking lekatnya ia menatap, bisa dibilang kepalanya pun bergerak seratus delapan puluh derajat. Dari posisi tengok kiri, mentok hingga posisi tengok kanan.

Seperti itulah kejadian waktu pertama kali bertemu dengannya. Dan seperti itu pula pertemuan-pertemuan selanjutnya. Saya tidak bosan-bosan melemparkan senyum kepadanya dan dia tidak bosan-bosan pula melemparkan pandangnya ke arah saya. Walau pun saya sungguh-sungguh sadar bahwa bapak yang satu ini sudah berada di alam pikirannya sendiri. Dengan fantasi dan imajinasinya sendiri juga, yang seringkali tidak nyambung dengan orang-orang disekitarnya..

Sementara, semakin hari penampilannya semakin tidak terurus. Pakaian yang dikenakannya hanya itu-itu saja dan semakin dekil. Rambutnya mulai tidak terawat dan sering nampak tidak disisir. Jadi bisa disimpulkan bahwa bapak ini memang sudah hilang ingatan alias tidak waras. Dan bisa jadi pula saya ikut-ikutan dicap tidak waras oleh orang yang melihat interaksi kami yang aneh. Hehe…

Hingga suatu saat, saya berangkat ke kantor bersama dengan teman yang saya ceritakan di atas tadi. Menyusuri jalanan yang sama. Bertemu juga dengan bapak yang sama. Dan saya pun melakukan hal yang sama. Tiba-tiba teman yang berjalan disamping saya ini bersuara.

“Pak…”

“Ya…. Berangkat?”

“Iya…”

Wah, ternyata ada yang lebih tidak waras dari saya nih, begitu saya pikir. Orang tidak waras kok malah diajak ngomong. Tapi, ternyata teman saya berpendapat tidak ada ruginya menyapa dan mengajak bapak itu berbicara. Toh nyatanya ia masih mau dan bisa menjawab sapaan, serta balas bertanya. Siapa tau dengan bersikap seperti itu, perlahan-lahan si bapak akan merasa masih dihargai oleh orang-orang sekitar. Kemudian semakin bertambah kepercayaan dirinya, hingga akhirnya bisa mengembalikan cara berpikirnya seperti semula dan kembali normal. Wallahu a’lam bish-shawab.

Jadilah hari itu saya mendapat satu pelajaran lagi. Menghargai orang. Sekecil apa pun dia. Setidak berarti apa pun ia bagi kita. Bisa jadi, memanusiakan orang yang tidak waras adalah salah satu tanda kewarasan kita sebagai manusia. Salah satu bentuk sedekah dan syukur kita kepada Rabb kita, Sang Maha Pencipta yang telah membentuk kehidupan ini.

Walau pun tetap saja, setiap kali saya berpapasan atau melihat orang gila yang sudah hitam dekil dan (maaf) tidak berbusana misalnya, saya jadi deg-degan dan bingung sendiri. Nanti kalau saya sapa, bisa-bisa dia mengajak saya berkenalan dan minta nomor telepon saya. Bisa gawat. Hahaha…

Jakarta, 30 September 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | September 30, 2009

Pindah Ruang Kelas

Setidaknya, sudah dua setengah tahun lamanya saya berkutat dengan program petualangan anak-anak Si Bolang di stasiun televisi tempat saya bekerja, hingga pada awal Agustus kemarin saya dipindahkan ke program Koki Cilik. Masih acara anak-anak juga, dan kepindahan itu, buat saya sama sekali bukan sebuah masalah besar. Mungkin memang sudah waktunya bagi saya untuk mempelajari hal-hal baru lainnya di program yang baru itu.

Hanya saja, pada awalnya ada satu hal yang sedikit agak berat untuk saya tinggalkan. Semasa masih di Si Bolang, saya punya banyak kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat di pelosok Nusantara. Tempat-tempat yang sering kali tidak tercantum namanya di dalam peta. Tempat di mana sinyal handphone, aliran listrik, dan MCK yang memadai merupakan sebuah kenikmatan dan kemewahan tersendiri. Tempat di mana saya merasa bisa menyatu sepenuhnya dengan alam. Tempat di mana saya dan rekan saya sesekali harus mempertaruhkan keselamatan jiwa, juga peralatan, dalam perjalanan menujunya.

Justru di tempat seperti itulah, dalam segala keterbatasan tersebut, saya bisa sangat merasakan kekuasaan Alloh swt. Melalui setiap desir angin. Membias di setiap tetes embun. Mengalir begitu saja, melalui apa dan siapa pun yang lewat atau menetap di sekitar diri saya. Selalu penuh kejutan, dan mudah bagi saya untuk menangkap setiap kelebatannya. Tidak jarang juga hal-hal baru yang saya temui, menghantam dengan telak keangkuhan diri yang tegak menjulang. Saya terhempas. Tersadarkan.

Sedang untuk saat ini, kondisinya agak berbeda. Saya akan lebih banyak melakukan liputan di tempat-tempat yang tidak terlalu jauh dari wilayah perkotaan. Ketergesa-gesaan dan hiruk pikuk, tekanan hidup dan emosi yang cenderung tinggi, serta keterbiasaan saya dengan suasana kota, sering membuat saya tidak begitu peduli pada kondisi sekitar. Saya menjadi manusia yang imun dan egois. Kepekaan nurani perlahan tertutupi oleh debu-debu akal yang awalnya kasat mata, tapi tiba-tiba sudah demikian tebal menumpuk.

Tidak seperti itu seharusnya, seandainya di setiap waktu saya mau membuka lebar-lebar semua panca indera untuk menangkap segala yang terjadi, menyaringnya dengan segenap pikir, dan mengendapkannya dalam lubuk hati. Dari proses seperti itulah kita akan mendapatkan sari pati kehidupan.

Kota besar, dengan segenap ragam manusia dan bentuk kehidupannya, punya caranya sendiri untuk bercerita kepada kita. Menceritakan apa yang ingin Alloh swt sampaikan. Sering kali dengan cara yang sangat sederhana, tapi penuh makna. Seperti dua peristiwa yang saya alami di Bandung, dalam rentang waktu yang berbeda. Kebetulan sekali keduanya memiliki pokok yang sama, yaitu masalah rizqi manusia.

Cerita yang pertama terjadi ketika saya sedang menumpang angkot jurusan Margahayu – Ledeng. Saya duduk di samping supir yang sedang bekerja. Angkot sudah penuh dengan penumpang semenjak roda-rodanya mulai berputar meninggalkan terminal Margahayu. Satu dua kali, lajunya terhenti untuk menurunkan atau menaikkan satu dua penumpangnya. Saya sendiri berusaha menikmati perjalanan sembari sesekali menahan kantuk yang datang menyergap. Hingga suatu saat angkot berhenti di sebuah perempatan jalan ― belakangan saya baru tahu bahwa orang-orang menamakannya Perempatan Bersama, karena di sana terletak Kantor Bersama SAMSAT. Beberapa orang turun hingga mengosongkan sekitar sepertiga isi angkot. Semua itu masih terasa biasa saja hingga saya mendengar bapak supir berbicara dalam Bahasa Sunda, yang jika diterjemahkan kira-kira begini, “Maaf Pak, naik angkotnya yang di depan saja. Dia sudah ngetem lebih dulu dari tadi.”

Ternyata ada seorang calon penumpang yang sudah hampir naik, tapi malah ditolaknya. Memang, beberapa meter di depan, ada sebuah angkot yang sebelumnya sudah ada di sana dan lebih kosong dibanding angkot yang saya naiki ini. Nah, saya jadi takjub. Jarang nih, ada supir yang seperti ini. Biasanya, supir-supir angkot yang malang melintang di jalanan akan saling berebut penumpang hingga tidak jarang saling kejar, saling serempet, dan ujung-ujungnya bisa jadi saling hantam. Tapi ia malah melepaskan apa yang sudah nampak di depan mata. Menurut hemat saya, setidaknya ada dua hal yang bisa dijadikan alasan kenapa si supir melakukan itu. Yang pertama, ia tak ingin merebut rizqi dari supir lain yang sudah lebih dulu menunggu penumpang di situ, sementara ia sendiri baru saja sampai, dan tujuannya berada di situ hanyalah untuk menurunkan penumpang. Yang kedua, bisa jadi dirinya memiliki prinsip memberi untuk mendapatkan lebih. Karena seperti itulah janji Alloh, yang akan membalas berkali lipat setiap kebaikan yang manusia lakukan.

Lanjut ke cerita kedua. Ini terjadi ketika kami sedang meliput Es Goyobod Kliningan yang terletak di daerah Buah Batu, Bandung. Kami mengerjakan liputan untuk episode Ramadhan. Setelah menyelesaikan syuting dan berbuka puasa, kami membereskan peralatan dan bersiap-siap pamit. Sementar itu, ibu dari presenter kami tengah berbincang-bincang dengan Abah Uus. Abah Uus sendiri adalah keturunan generasi ketiga dari penemu ide minuman es goyobod itu. Ternyata yang mereka perbincangkan seputar resep minuman itu. Langsung saja saya dan teman-teman kru lainnya mengolok-olok.

“Awas Bah, nanti resepnya dipake dagang.”

“Iya, nanti si Tante buka warung di sebelah loh Bah…”

Kami pun tertawa, dan Abah dengan santai menanggapi, “Mangga atuh kalau mau buka di sebelah mah. Di depan juga boleh. Kalau kata Alloh sudah rizqi Abah mah, gak akan belok ke mana-mana.”

Serta merta saya mengacungkan jempol dan berkata, “Mantap Bah….!”

Ya, salut buat si Abah. Juga buat si supir angkot. Tidak ada kekhawatiran dalam diri mereka untuk tidak kebagian rizqi. Bagian masing-masing sudah ditetapkan, tinggal bagaimana setiap kita berusaha menjemputnya.

Demikian juga dengan ilmu dan hikmah kehidupan. Setiap peristiwa punya makna. Setiap kehendak Alloh ada maksudnya. Tidak ada satu kejadian kecil pun, kecuali tanpa kehendak dan campur tangan Alloh swt di dalamnya. Dan semua itu ada di mana-mana. Belajar bisa di ruang kelas yang mana pun. Tinggal kita yang mau atau tidak untuk selalu jeli menangkap tanda-tanda dari-Nya.

Jakarta, 4 September 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | Agustus 18, 2009

Membaca Bunga

(untuk Yuta)

Ia punya masa
Memang
Hingga lantak luruh rangkai kelopak
Ia beranjak moksa

Dalam tiadanya kelak
Sesungguhnya ia ada
Semenjak ia ada

Ia peduli
Karena hidup baginya
Adalah seri
Adalah wangi

Pada derai gelak manusia
Pada tingkah kicau burung

Pada dunia

Meski punggung bumi
Meleleh tak henti
Tak juga ramah gegas hari

Ia tak peduli
Karena hidup baginya
Punya arti
: memberi

Jakarta, 5 Agustus 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | Agustus 18, 2009

Menghadang Malaikat Maut

Dalam bisunya, sesungguhnya ada kata-kata yang ingin ia ucapkan. Pasti seperti itu. Dan selalu seperti itu, setiap kali malaikat maut lewat begitu saja di hadapan kita dan tiba-tiba sudah mengajak pergi jiwa seseorang bersamanya. Meski tidak selalu setiap orang melebarkan daun telinga masing-masing untuk menangkap ngiangnya.

Begitu juga ketika ia kembali sekilas “menampakkan diri” di layar kaca untuk menjemput seorang tua bersahaja yang bernama Mbah Surip. Serta merta pikiran saya menghadang langkahnya dan mengajukan pertanyaan, apa lagi yang akan ia sampaikan kali ini. Selalu jawaban yang paling pertama muncul adalah bahwa giliran saya sudah semakin dekat. Bersiaplah!

“Lalu apa lagi?”

Bibirnya menyiratkan senyum. “Itu adalah tugasmu sendiri untuk mencari tahu, karena sebagai manusia engkau telah dianugerahi akal untuk memikirkannya. Mencari hikmah dari segala yang terjadi. Sementara aku hanya melaksanakan tugas yang diperintahkan Tuhan kepadaku, menjemput jiwa setiap orang di antara kalian, yang telah tiba waktu baginya untuk meninggalkan dunia ini.”

Zzzap…! Seketika ia menghilang begitu saja dari ruang pikir saya. Membiarkan saya bermain sendiri di dalamnya. Mengutak-atik teka-teki. Mencari jawaban dari pertanyaan yang mungkin juga hinggap di benak orang lain, yang sama-sama tidak menyangka akan kepergian Mbah Surip yang begitu tiba-tiba. Tepat pada puncak ketenarannya. Tepat di saat ia nampak begitu menikmati kehidupannya.

Benarkah seperti itu? Benarkah ia sepenuhnya menikmati apa yang ia jalani selama beberapa waktu terakhir menjelang ajalnya? Terus terang, saya tidak begitu yakin. Saya lebih yakin bahwa dia lebih menikmati kehidupannya sebelum ia menjadi begitu tenar. Saat ia masih bergulat di jalanan. Saat ia sering kali kekurangan, tapi tidak menjadi orang yang mudah menengadahkan tangan. Saat ia merasakan sempit, tapi tawa dan nyanyinya justru melapangkan hati orang lain.

Seperti itu yang nampak di mata saya. Walau pun setelah semuanya berubah, si Mbah yang satu ini tetap berusaha untuk menjadi dirinya sendiri. Apa adanya. Tetapi setiap perubahan tentu membawa nuansa yang berbeda pula. Apalagi semakin tinggi status sosial seseorang, godaan dan cobaan yang mengiringi pun semakin berat. Ini terlihat dari alasan si Mbah untuk pulang ke rumah pelawak Mamiek dan beristirahat di sana. Justru bukan rumahnya sendiri yang ia jadikan pilihan untuk melepaskan lelah, dengan alasan bahwa dirinya masih merasa letih untuk bertemu wartawan yang banyak mengerubungi dirinya. Bahkan saat merasa tidak enak badan pun, ia menolak untuk memeriksakan kesehatannya di rumah sakit, dengan alasan yang sama.

Dari sedikit yang saya lihat dan ketahui itu, saya mencoba sedikit menyimpulkan bahwa setidaknya, Alloh swt masih menyayangi si Mbah. Masih menjaganya. Dia menjemputnya pulang justru untuk menjaga agar Mbah tetap dikenang sebagai orang yang sederhana dan bersahaja. Dia tidak ingin harta yang melimpah secara tiba-tiba dapat membutakan mata hati Si Mbah.

Ya, biar semua orang yang mengenal dan menggemari Mbah Surip tetap mengenangnya seperti itu. Hanya sebatas itu. Bukan seperti artis-artis lain yang kepribadiannya cuma dikenal dan dijadikan sebagai komoditas gunjingan yang busuk, dan ironisnya mereka malah terlarut dan menikmati hal itu.

****

Saya mencoba untuk kilas balik ke suatu waktu. Ingatan saya mencoba menyusuri lagi jalur pendakian Gunung Semeru yang pernah saya susuri beberapa tahun silam. Berusaha untuk menapaki jejak malaikat maut saat beberapa hari yang lalu menjemput Andika, seorang pendaki dari UGM yang ditemukan tewas di gunung itu.

Ketika masih giat melakukan kegiatan di alam bebas semasa kuliah dulu, begitu pun saat menjalani pekerjaan saya kini, yang lebih banyak dilakukan lapangan dan berinteraksi langsung dengan alam, saya sadar sepenuhnya bahwa kehilangan nyawa adalah sebuah resiko yang harus saya antisipasi dan persiapkan. Karena dalam setiap pendakian, perjalanan, atau pun perkerjaan yang saya lakukan, keinginan saya hanyalah kembali ke rumah tanpa kurang suatu apa pun. Tapi bukankah kenyataan yang terjadi tidak selalu sesuai begitu saja dengan rencana kita. Alloh swt punya kuasa yang lebih kuat dan kehendak dan rencana yang lebih baik, tentunya.

Yang saya pahami dan rasakan, para pendaki gunung selalu punya kerinduan yang besar untuk pulang, selama dan sesudah mereka menyelesaikan pendakian yang berat. Tapi yang saya rasakan juga, jika ternyata ajal keburu menjemput mereka sebelum sampai di rumah – sebutlah beberapa nama besar seperti Soe Hok Gie, Norman Edwin, Didiek Samsu, dan George Mallory – saya yakin jiwa mereka tak akan menyesalinya. Karena sebelumnya mereka telah mempersiapkan segalanya sebaik mungkin dan sepenuh hati, serta menyadari resiko ini bisa saja menimpa mereka, kapan pun Tuhan menentukan. Jadi teringat sebuah kalimat yang dahulu pernah saya tulis dalam catatan saya, “Jika takdir menentukan ajalku dijemput dalam kesendirianku di gunung, hutan, lautan, atau di mana pun dalam setiap perjalananku, aku tak akan pernah menyesalinya. Dan kumohon jangan kalian sesali pula jalan yang kupilih ini.”

Semangat seperti itu juga yang sebaiknya kita tanamkan pada segala yang kita lakukan dalam hidup. Setiap waktu. Mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin, sepenuh hati dan penuh rasa sabar, serta tetap rendah hati menghadapi kesuksesan. Satu lagi yang penting adalah jangan menyesali apa pun yang terjadi, karena seringkali semua itu adalah akibat dari tindakan yang kita pilih untuk kita lakukan.

*****

Pesan. Kematian selalu membawa pesan. Malaikat maut datang untuk membawa pesan, terutama bagi yang masih diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama.

Beberapa jam sebelum saya merampungkan tulisan ini, saya baru saja mengantar kepergian seorang sahabat. Mengantarnya memasuki liang kubur. Menyaksikan babak akhir sebuah kehidupan di dunia hanyalah tumpukan tanah yang masih gembur dan menggembung. Tapi saya akan selalu ingat sosok sang sahabat. Terlebih semangatnya untuk sembuh dari kanker yang ia derita. Untuk kembali berkumpul dengan teman-teman yang menyayanginya. Untuk meningkahi dunia dengan canda tawanya. Walau pun Alloh swt ternyata jauh lebih sayang padanya, dengan melepaskan dirinya dari segala pernderitaan dan sakitnya. Menjemputnya untuk menetap di rumah abadinya.

Ya. Rumah abadi. Tempat di mana seluruh kehidupan manusia berujung. Seperti yang ditulis oleh Gola Gong dalam sebuah puisinya :

Cukup tanah merah
batu nisan
dan kendi berisi air saja
itulah rumahku
: peristirahatan abadi

Jakarta, 6 Agustus 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

*) Tulisan ini didedikasikan untuk Iskandar. Selamat jalan, sahabat. Istirahat yang tenang ya…

Oleh: birusamudera | Juli 5, 2009

Niken

Niken Ayu Hapsari Sutomo lengkapnya. Gadis kecil berparas ayu ini masih duduk di bangku kelas 5 SD di Desa Lelipang, Kecamatan Tamako, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Persisnya desa ini berada di Pulau Sangihe ─ sebagian orang menyebutnya Sanger atau Sangier.

Waktu itu Niken memang mengikuti audisi super kilat yang saya dan rekan saya adakan di sekolahnya. Saat ia maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, kami sedikit kaget mendengar namanya yang “sangat Jawa”. Ternyata ayahnya memang berasal dari Solo, sementaranya ibunya adalah penduduk asli desa tersebut. Dari gurunya, kami juga tahu bahwa ia adalah seorang muslimah, mengikuti agama yang dianut ayahnya. Ada rasa gembira dalam hati karena kami bertemu dengan saudara seiman di tengah mayoritas pemeluk Nasrani. Sayangnya, ia tidak termasuk 5 orang yang pada akhirnya kami  pilih untuk memerankan tokoh Si Bolang.

Hari-hari kami berikutnya dipenuhi dengan kesibukan liputan dan syuting. Hingga pada suatu sore, ketika selesai syuting, kami berniat untuk menjama’ sholat Dzuhur dan Ashar. Seperti hari-hari sebelumnya, kami beranjak menuju satu sungai yang airnya sangat jernih, di mana terdapat banyak batu-batu besar yang bisa dijadikan tempat sholat. Kami mengesampingkan kemungkinan menumpang sholat di rumah penduduk karena hampir di setiap rumah ada anjing peliharaan yang bebas berkeliaran. Sekedar untuk menjaga kemungkinan terkena air liurnya yang termasuk sesuatu yang tidak suci.

Belum jauh kaki ini melangkah, tiba-tiba ada suara yang bertanya, “Kakak mau sholat kah?”

Ternyata itu adalah suara Niken. Saya pun mengiyakan.

“Sholat di rumah saya saja,” ia menawarkan.

“Oh ya? Jauhkah rumahmu?”

“Tidak. Di situ saja,” jawabnya sambil menunjuk ke sebuah lorong yang agak menjorok ke bawah.

Lalu kami pun memutuskan untuk menumpang sholat di rumahnya. Sebuah rumah sederhana bertembok dan berlantai semen yang masih kasar. Jendelanya hanyalah kayu-kayu yang dipaku melintang di kusen dan gordennya terbuat dari karung plastik.

Selesai sholat kami sempatkan diri untuk berbincang dengan ibunya. Sementara ayahnya sendiri sedang ada di sekolah untuk mengawasi proses renovasi gedung sekolah. Si ibu, yang seorang mualaf, bercerita bahwa keluarga mereka adalah satu-satunya keluarga muslim di wilayah itu. Berbeda dengan kota kecamatan Tamako, di mana terdapat beberapa pemeluk Islam yang mayoritas merupakan pendatang dari Jawa, Bugis, dan Gorontalo.

Dengan pertimbangan kualitas pendidikan dan untuk memelihara aqidahnya, kedua orang tua Niken berencana untuk mengirim Niken bersekolah di Jawa setamat SMP nanti. Ada terbersit lega di hati saya mendengar rencana tersebut. Terbayang betapa beratnya mempertahankan keyakinan seorang diri. Tanpa dukungan informasi dan sarana belajar yang memadai.

Sayangnya, saya hanya berada di desa itu untuk sementara saja. Tapi saya merasa harus ada sesuatu yang saya lakukan, sekecil apa pun. Akhirnya, adalah senyum dan kata-kata yang terucap dari bibir, “Kamu harus bangga menjadi seorang muslim. Saat besar nanti, jadilah muslim yang baik.”

Entah bagaimana kelak ia akan mendefinisikan muslim yang baik itu. Biar perjalanan hidup dan pencariannya akan jati diri yang memberi pembelajaran akan hal itu. Biar Alloh swt yang membimbing dan mencarikannya jalan. Semoga.

Sebelum pergi, saya memberinya kartu nama dan berpesan kepadanya untuk menghubungi saya jika nanti telah menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Saya berharap, perjumpaannya dengan kami, keputusan kami menumpang sholat di rumahnya, dan sedikit kata-kata bisa menjadi sesuatu yang berkesan dan pendorong baginya untuk menghadapi banyak rintangan. Mudah-mudahan segala sesuatunya akan berbuah manis.

*****

Berkaca dari pertemuan saya dengan Niken itu, saya jadi belajar, sering kali ada banyak hal kecil yang terlewat begitu saja dari penginderaan diri kita. Waktu yang singkat dan  pertemuan sesaat dengan seseorang misalnya, mungkin hanya menjadi sekelebatan peristiwa yang mampir dalam memori dan selanjutnya akan terhapus begitu saja. Dan tanpa kita sadari juga, hal kecil yang muncul dari diri kita, tidak jarang malah berpengaruh besar terhadap seseorang sehingga bisa mengubah pola pikir dan tindakannya. Lalu akan terjadilah retetan peristiwa berikutnya yang saling berkaitan. Perubahan yang satu akan menyeret perubahan-perubahan lainnya. Kecil maupun besar.

Seorang misionaris dan penulis bernama J.R Miller pernah menulis : “Ada pertemuan yang hanya sesaat namun meninggalkan kesan seumur hidup. Tak ada seorang pun yang bisa memahami hal misterius yang kita sebut pengaruh. Apakah itu untuk menyembuhkan, untuk meninggalkan bekas keindahan, ataupun untuk melukai, menyakiti, meracuni, mencemari kehidupan orang lain, dan sebagainya.”

Kata-kata itu mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata, ketika berhadapan dengan seseorang. Terutama dengan orang yang baru saja bertemu dan belum banyak mengenal saya. Karena jika ia menangkap sesuatu dari tindakan dan kata-kata saya, melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, kemudian melakukan sesuatu yang tidak semestinya dilakukan, maka secara tidak langsung saya punya andil di situ. Secara tidak langsung ada yang harus saya pertanggungjawabkan, setidaknya kepada Tuhan yang saya yakini.

Tapi yang lebih besar dan lebih penting dari semua itu adalah, bahwa saya hanya ingin ada sesuatu yang bisa saya berikan. Sedikit, tapi ia punya arti. Kecil, tapi ia bisa bermanfaat.

Pekerjaan saya memang membuat saya bisa berkeliling pelosok Nusantara dan bertemu banyak sekali orang walaupun dalam waktu yang singkat. Rutinitas dan jadwal yang padat, seringkali membuat saya melewatkan begitu saja semua itu. Rasanya ada yang tidak pas. Sebaiknya memang ada sesuatu yang “nyangkut”. Sedikit saja. Seperti yang pernah diminta oleh seorang sahabat saya yang saat ini berdinas di TNI Angkatan Laut.

“Do, sempatkanlah walau sesaat, untuk menanamkan ke anak-anak kecil di daerah yang kamu liput, bahwa semestinyalah mereka mencintai bangsa ini. Bahwa keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dijaga dengan segenap jiwa.”

Maka seperti ketika saya melakukan peliputan di Pulau Makalehi, salah satu pulau terluar yang terletak di sebelah utara wilayah Indonesia, saya pun mencoba menyampaikan itu walaupun tidak langsung menggunakan kata-kata. Pada saat malam perpisahan dengan anak-anak, iseng-iseng saya mainkan ringtone yang ada di handphone saya. Salah satunya berjudul “hormat senjata” yang isinya adalah rekaman teriakan komandan upacara yang memberi aba-aba penghormatan dalam sebuah upacara yang dilakukan di istana negara. Spontan dan setengah bercanda, saya pun berteriak kepada mereka.

“Ayo, upacara dulu! Hormat! Hormat!”

Ternyata, setelah bunyi ringtone itu berhenti, secara otomatis handphone saya memainkan lagu Indonesia Raya versi marching band. Tanpa diminta, anak-anak itu turut menyanyikan lirik-lirik lagu kebangsaan itu dengan penuh semangat. Saya pun turut bernyanyi walaupun harus susah payah menahan tawa menyaksikan sikap tegap dan mimik wajah mereka yang polos, juga konyol.

Yah, setidaknya ada sesuatu yang sudah saya lakukan untuk membangkitkan rasa cinta dan memiliki bangsa ini dari dalam diri mereka. Mengenai sampai atau tidaknya, bertahan lama atau tidaknya pesan itu, adalah Alloh swt yang memiliki kuasa untuk membolak-balikan hati.

Jadi, apapun, bagaimanapun, dan seberapapun, lakukanlah sesuatu sekiranya ia memiliki manfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang memiliki manfaat bagi segala sesuatu di sekitarnya.

Jakarta, 28 April 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Oleh: birusamudera | April 28, 2009

Setidaknya, Lepaskan Dulu Tangismu

Bocah lelaki itu berjalan sendiri menyusuri keramaian festival musim panas, tempat di mana seharusnya ia menghabiskan malam itu dengan seseorang, sesuai dengan janji mereka sebelumnya. Tapi ia kebingungan. Selepas pemakaman, ia merasa tidak tahu harus melakukan apa. Wakaba, sahabat sekaligus orang yang ia sayangi dan menyayanginya, tenggelam di sungai ketika berusaha menyelamatkan adik kelasnya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Sebagai seorang bocah kelas 5 SD yang polos dan jarang berpikir rumit, ditambah pula tidak pernah merasakan kehilangan sebesar itu, ia memang tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan perasaannya. Hingga di suatu sudut jalan yang sepi, tak sengaja ia melihat Akaishi, teman sekolahnya yang paling jago berkelahi dan memendam perasaan cinta kepada Wakaba, sedang menangis.

Seakan menemukan pemecahan, ia tercenung di tempatnya sendiri. Terduduk. Membenamkan topi dalam-dalam hingga menutupi kedua matanya.

“Itu mudah saja. Menangis saja…”

Bulir-bulir air pun mulai menjejak alur di bidang pipinya.

*****

Kisah si Kou Kitamura di atas adalah fragmen dari manga Cross Game besutan komikus Adachi Mitsuru. Salah satu manga favorit saya. Dan fragmen tersebut juga salah satu bagian cerita yang paling saya suka. Begitu mudahnya untuk dicerna dan menempel kuat di memori saya.

Ada yang salah jika seseorang menangis? Apalagi jika orang itu adalah lelaki? Rasa-rasanya tidak ada tuh. Kalau memang salah, buat apa pula Tuhan bermurah hati menganugerahkan kelenjar yang menghasilkan cairan bernama air mata itu? Sekedar untuk membersihkan mata dari debu-debu dan kotoran yang menyelinap? Ah, nggak juga deh…

Pernah saya mendengar seseorang mengatakan bahwa orang yang menangis itu karena perasaannya lebih dikedepankan daripada pikirannya. Jadinya tidak seimbang. Dan semenjak ia memutuskan untuk tak lagi mudah menangis, maka ia lebih mengandalkan logikanya agar lebih kuat menjalani hidupnya.

Saya merasa pendapat seperti itu tidak sepenuhnya tepat. Memang ada ketidakseimbangan yang terjadi. Tapi, justru air matalah yang membuatnya seimbang. Air matalah yang menjadi katalisator. Ketika dada terasa begitu sesak dan membutuhkan sirkulasi, air mata pula yang menjadi saluran pembuangan. Untuk kemudian dihembuskannya kembali hawa kelegaan menyusupi labirin-labirin yang terasa kosong.

Seringkali pula saya merasa begitu sebal saat mendengar ada orang tua yang membentak anaknya yang sedang menangis dengan kata-kata, ”Jangan menangis!”. Apalagi kalau pakai embel-embel, ”Kamu kan laki-laki.” Mungkin harus dibedakan antara menangis dan cengeng. Menangis hanyalah sebuah tindakan. Pengungkapan dari apa yang dirasakan. Sementara cengeng lebih cenderung kepada sifat yang… ah, menyebalkan deh.

Jadi, jika suatu saat Allah swt mengamanahkan kepada saya anugerah berupa anak, apalagi lelaki, saya akan mencoba untuk lebih berhati-hati ketika harus mengucapkan kalimat seperti itu. Tentunya saya tidak ingin keturunan saya kelak adalah orang-orang yang berhati keras dan berkepala batu. Karena ketika segala sesuatu dalam hidup ini terasa begitu kejam menghantam kita dari berbagai sisi, kelembutan hatilah yang akan menyejukkan kita. Simpati, juga empati, adalah cara kita memandang indah dunia. Dan melalui menangis, salah satunya, kita akan mempelajari itu semua.

Tangis, bisa jadi memang bukan jawaban keseluruhan. Mungkin hanya perhentian sementara. Tempat mengistirahatkan segala lelah. Sebuah titik di mana kita bisa merekonstruksi apa yang telah runtuh menjadi puing. Harapan. Kepercayaan diri. Kedamaian dan ketenangan jiwa.

Jadi teringat sebuah tembang lawas yang dinyanyikan Iwan Fals, yang berkolaborasi dengan Sawung Jabo dan rekan-rekan lainnya dalam grup band SWAMI. Judulnya Nyanyian Jiwa.

”Nyanyian jiwa
Haruslah dijaga
Mata hati
Haruslah diasah

Menjeritlah…
Menjeritlah selagi bisa.
Menangislah…
Jika itu dianggap penyelesaian.”

Setidaknya, lepaskan dulu tangismu. Jangan pernah merasa malu.

Jakarta, 28 April 2009

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku

Tulisan Sebelumnya »

Kategori