Niken Ayu Hapsari Sutomo lengkapnya. Gadis kecil berparas ayu ini masih duduk di bangku kelas 5 SD di Desa Lelipang, Kecamatan Tamako, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Persisnya desa ini berada di Pulau Sangihe ─ sebagian orang menyebutnya Sanger atau Sangier.
Waktu itu Niken memang mengikuti audisi super kilat yang saya dan rekan saya adakan di sekolahnya. Saat ia maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, kami sedikit kaget mendengar namanya yang “sangat Jawa”. Ternyata ayahnya memang berasal dari Solo, sementaranya ibunya adalah penduduk asli desa tersebut. Dari gurunya, kami juga tahu bahwa ia adalah seorang muslimah, mengikuti agama yang dianut ayahnya. Ada rasa gembira dalam hati karena kami bertemu dengan saudara seiman di tengah mayoritas pemeluk Nasrani. Sayangnya, ia tidak termasuk 5 orang yang pada akhirnya kami pilih untuk memerankan tokoh Si Bolang.
Hari-hari kami berikutnya dipenuhi dengan kesibukan liputan dan syuting. Hingga pada suatu sore, ketika selesai syuting, kami berniat untuk menjama’ sholat Dzuhur dan Ashar. Seperti hari-hari sebelumnya, kami beranjak menuju satu sungai yang airnya sangat jernih, di mana terdapat banyak batu-batu besar yang bisa dijadikan tempat sholat. Kami mengesampingkan kemungkinan menumpang sholat di rumah penduduk karena hampir di setiap rumah ada anjing peliharaan yang bebas berkeliaran. Sekedar untuk menjaga kemungkinan terkena air liurnya yang termasuk sesuatu yang tidak suci.
Belum jauh kaki ini melangkah, tiba-tiba ada suara yang bertanya, “Kakak mau sholat kah?”
Ternyata itu adalah suara Niken. Saya pun mengiyakan.
“Sholat di rumah saya saja,” ia menawarkan.
“Oh ya? Jauhkah rumahmu?”
“Tidak. Di situ saja,” jawabnya sambil menunjuk ke sebuah lorong yang agak menjorok ke bawah.
Lalu kami pun memutuskan untuk menumpang sholat di rumahnya. Sebuah rumah sederhana bertembok dan berlantai semen yang masih kasar. Jendelanya hanyalah kayu-kayu yang dipaku melintang di kusen dan gordennya terbuat dari karung plastik.
Selesai sholat kami sempatkan diri untuk berbincang dengan ibunya. Sementara ayahnya sendiri sedang ada di sekolah untuk mengawasi proses renovasi gedung sekolah. Si ibu, yang seorang mualaf, bercerita bahwa keluarga mereka adalah satu-satunya keluarga muslim di wilayah itu. Berbeda dengan kota kecamatan Tamako, di mana terdapat beberapa pemeluk Islam yang mayoritas merupakan pendatang dari Jawa, Bugis, dan Gorontalo.
Dengan pertimbangan kualitas pendidikan dan untuk memelihara aqidahnya, kedua orang tua Niken berencana untuk mengirim Niken bersekolah di Jawa setamat SMP nanti. Ada terbersit lega di hati saya mendengar rencana tersebut. Terbayang betapa beratnya mempertahankan keyakinan seorang diri. Tanpa dukungan informasi dan sarana belajar yang memadai.
Sayangnya, saya hanya berada di desa itu untuk sementara saja. Tapi saya merasa harus ada sesuatu yang saya lakukan, sekecil apa pun. Akhirnya, adalah senyum dan kata-kata yang terucap dari bibir, “Kamu harus bangga menjadi seorang muslim. Saat besar nanti, jadilah muslim yang baik.”
Entah bagaimana kelak ia akan mendefinisikan muslim yang baik itu. Biar perjalanan hidup dan pencariannya akan jati diri yang memberi pembelajaran akan hal itu. Biar Alloh swt yang membimbing dan mencarikannya jalan. Semoga.
Sebelum pergi, saya memberinya kartu nama dan berpesan kepadanya untuk menghubungi saya jika nanti telah menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Saya berharap, perjumpaannya dengan kami, keputusan kami menumpang sholat di rumahnya, dan sedikit kata-kata bisa menjadi sesuatu yang berkesan dan pendorong baginya untuk menghadapi banyak rintangan. Mudah-mudahan segala sesuatunya akan berbuah manis.
*****
Berkaca dari pertemuan saya dengan Niken itu, saya jadi belajar, sering kali ada banyak hal kecil yang terlewat begitu saja dari penginderaan diri kita. Waktu yang singkat dan pertemuan sesaat dengan seseorang misalnya, mungkin hanya menjadi sekelebatan peristiwa yang mampir dalam memori dan selanjutnya akan terhapus begitu saja. Dan tanpa kita sadari juga, hal kecil yang muncul dari diri kita, tidak jarang malah berpengaruh besar terhadap seseorang sehingga bisa mengubah pola pikir dan tindakannya. Lalu akan terjadilah retetan peristiwa berikutnya yang saling berkaitan. Perubahan yang satu akan menyeret perubahan-perubahan lainnya. Kecil maupun besar.
Seorang misionaris dan penulis bernama J.R Miller pernah menulis : “Ada pertemuan yang hanya sesaat namun meninggalkan kesan seumur hidup. Tak ada seorang pun yang bisa memahami hal misterius yang kita sebut pengaruh. Apakah itu untuk menyembuhkan, untuk meninggalkan bekas keindahan, ataupun untuk melukai, menyakiti, meracuni, mencemari kehidupan orang lain, dan sebagainya.”
Kata-kata itu mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata, ketika berhadapan dengan seseorang. Terutama dengan orang yang baru saja bertemu dan belum banyak mengenal saya. Karena jika ia menangkap sesuatu dari tindakan dan kata-kata saya, melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, kemudian melakukan sesuatu yang tidak semestinya dilakukan, maka secara tidak langsung saya punya andil di situ. Secara tidak langsung ada yang harus saya pertanggungjawabkan, setidaknya kepada Tuhan yang saya yakini.
Tapi yang lebih besar dan lebih penting dari semua itu adalah, bahwa saya hanya ingin ada sesuatu yang bisa saya berikan. Sedikit, tapi ia punya arti. Kecil, tapi ia bisa bermanfaat.
Pekerjaan saya memang membuat saya bisa berkeliling pelosok Nusantara dan bertemu banyak sekali orang walaupun dalam waktu yang singkat. Rutinitas dan jadwal yang padat, seringkali membuat saya melewatkan begitu saja semua itu. Rasanya ada yang tidak pas. Sebaiknya memang ada sesuatu yang “nyangkut”. Sedikit saja. Seperti yang pernah diminta oleh seorang sahabat saya yang saat ini berdinas di TNI Angkatan Laut.
“Do, sempatkanlah walau sesaat, untuk menanamkan ke anak-anak kecil di daerah yang kamu liput, bahwa semestinyalah mereka mencintai bangsa ini. Bahwa keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dijaga dengan segenap jiwa.”
Maka seperti ketika saya melakukan peliputan di Pulau Makalehi, salah satu pulau terluar yang terletak di sebelah utara wilayah Indonesia, saya pun mencoba menyampaikan itu walaupun tidak langsung menggunakan kata-kata. Pada saat malam perpisahan dengan anak-anak, iseng-iseng saya mainkan ringtone yang ada di handphone saya. Salah satunya berjudul “hormat senjata” yang isinya adalah rekaman teriakan komandan upacara yang memberi aba-aba penghormatan dalam sebuah upacara yang dilakukan di istana negara. Spontan dan setengah bercanda, saya pun berteriak kepada mereka.
“Ayo, upacara dulu! Hormat! Hormat!”
Ternyata, setelah bunyi ringtone itu berhenti, secara otomatis handphone saya memainkan lagu Indonesia Raya versi marching band. Tanpa diminta, anak-anak itu turut menyanyikan lirik-lirik lagu kebangsaan itu dengan penuh semangat. Saya pun turut bernyanyi walaupun harus susah payah menahan tawa menyaksikan sikap tegap dan mimik wajah mereka yang polos, juga konyol.
Yah, setidaknya ada sesuatu yang sudah saya lakukan untuk membangkitkan rasa cinta dan memiliki bangsa ini dari dalam diri mereka. Mengenai sampai atau tidaknya, bertahan lama atau tidaknya pesan itu, adalah Alloh swt yang memiliki kuasa untuk membolak-balikan hati.
Jadi, apapun, bagaimanapun, dan seberapapun, lakukanlah sesuatu sekiranya ia memiliki manfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang memiliki manfaat bagi segala sesuatu di sekitarnya.
Jakarta, 28 April 2009
Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku