Apa yang benar-benar pantas untuk kita sombongkan sebagai manusia jika untuk sebuah hal kecil saja kita harus belajar pada sekawanan hewan buas seperti ikan hiu atau beruang? Pertanyaan ini sempat mengusik diri saya dikarenakan beberapa hal atau peristiwa yang sempat saya lihat dan dengar.
Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menonton sebuah program dokumenter di saluran National Geographic. Di situ diceritakan mengenai beberapa penyelam dan peneliti yang akan melakukan penelitian tentang ikan hiu. Yang membuat saya kagum adalah, mereka sama sekali tidak menggunakan peralatan pengaman berupa kurungan atau kerangkeng, yang dapat melindungi diri mereka dari serangan ikan hiu yang terkenal ganas.
Satu per satu, para penyelam memasuki kedalaman air. Perlahan dan hati-hati, mereka mendekati sebuah titik di dasar laut yang berkarang. Nampak segerombolan ikan hiu dari berbagai jenis, yang sepengetahuan saya semuanya termasuk jenis hiu karang. Hiu karang ini memang berhabitat di laut dangkal, perairan pantai, atau perairan berkarang.
Terlihat banyak. Jelas lebih dari jumlah semua jari di tangan manusia normal. Beberapa ekor nampak tenang, tak banyak bergerak di dasar laut. Rupanya itu adalah dari jenis hiu buto alias Tawny Nurse Shark (Nebrius Ferrugineus), yang cenderung kalem dan tidak agresif. Saya sendiri pernah secara langsung merekam gambar hiu jenis ini dalam sebuah kolam di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Beberapa ekor lagi nampak berenang, melayang-layang, dan berputar-putar. Karena terlalu takjub dengan gambarnya, saya tidak begitu menyimak apa yang diceritakan oleh si narator. Tapi seingat yang saya lihat, itu adalah hiu jenis Blacktip atau Whitetip Reef. Masih hiu karang juga, tapi yang ini lebih agresif terhadap mangsanya. Nampak juga satu dua ekor hiu martil (Hammerhead) yang aktif berkeliling. Bahkan salah satunya melahap seekor ikan hiu yang sedang sekarat akibat kalah berkelahi dengan sesamanya.
Yang mencengangkan adalah, semua penyelam menyaksikan hiu-hiu itu dari jarak sangat dekat. Apalagi di bagian terakhir film itu, diperlihatkan bagaimana mereka mencoba mendekati seekor hiu putih (Great White Shark), yang terkenal sebagai hiu pemangsa yang paling ganas dan ukuran badannya termasuk paling besar dibandingkan hiu yang lain. Hanya berbekal tongkat pendek, yang disentuhkan ke moncong hiu itu jika ia mendekat untuk mendeteksi keberadaan penyelam di dekatnya. Lama-kelamaan hiu tadi terbiasa dan para penyelam bisa berenang di dekatnya, bahkan beberapa orang berhasil mengelus perut ikan hiu itu saat melintas di atas mereka. Dari dokumenter itu pula saya jadi tahu bahwa daging manusia sebenarnya tidak termasuk dalam menu makanan pilihan hiu-hiu itu. Dalam kasus-kasus penyerangan terhadap manusia ternyata hiu sekedar “mencicipi” akibat adanya rangsangan tertentu. Salah satunya adalah bau darah.
Saya mencoba mengaitkan cerita tadi dengan apa yang tengah dialami oleh seorang sahabat. Sudah beberapa tahun saya tidak berjumpa dengan sahabat yang satu ini karena rentang jarak. Maklum, saat ini kami memang tinggal berlainan kota. Dan beberapa waktu yang lalu kami berhasil menyambung komunikasi lewat dunia maya.
Ternyata acara chatting itu malah dijadikan sebagai ajang curhat. Ia sedang kebingungan menghadapi ibu mertuanya, yang menuntut banyak hal dari suaminya. Materi, mau pun non materi. Sementara mereka berdua juga memiliki keterbatasan dan kebutuhan keluarga sendiri. Apalagi ditambah dengan kelahiran putra kedua mereka. Ia sudah mencoba untuk membicarakannya, tetapi sang suami tidak terlalu suka jika masalah dengan ibu mertuanya itu diungkit-ungkit. Makin bingunglah sahabat saya ini menghadapi situasi seperti itu.
Saya sendiri, juga ikut kebingungan setelah mendengar keluhannya itu. Merasa canggung karena bagi saya, masalah keluarga seperti itu tidak semestinya diceritakan kepada orang luar seperti saya. Juga karena saya tidak tahu harus memberi saran apa. Wong saya sendiri belum punya pengalaman berkeluarga. Dan setahu saya, di dalam Islam, seorang ibu memiliki kedudukan dan hak yang lebih terhadap anak lelakinya, dibanding seorang istri terhadap suaminya. Apalagi ibu mertua sahabat saya itu sudah lama ditinggal mati ayah mertua. Sementara kehidupan serta nafkah sehari-harinya bertumpu dari pemberian sang anak. Alhasil, saya hanya bisa berusaha menghibur dan membesarkan hati sahabat saya tadi.
Malamnya, di hari yang sama, saya menelpon seorang sahabat lainnya yang kini menetap di Pulau Dewata. Setelah membicarakan banyak hal, saya pun menceritakan kasus tadi dan mencoba meminta pendapatnya. Ia pun sepandangan dengan saya mengenai kedudukan sang ibu, anak lelaki, dan istri. Malah jika dipraktikkan mentah-mentah − secara saklek kalau orang jawa bilang − untuk urusan pendapatan misalnya, si anak menyerahkan terlebih dulu kepada ibunya. Setelah ibunya mengambil sesuai dengan yang dibutuhkan, barulah sisanya diperuntukkan bagi si anak dan keluarganya.
“Tapi toh kenyataannya, terutama saat ini, tidak seperti itu juga. Karena dalam hubungan antar manusia, ada yang namanya komunikasi dan negosisasi,” begitu sahabat saya melanjutkan.
Dan di sinilah letak tantangan dan seninya. Pada bagaimana cara kita mendekati orang lain dan mengkomunikasikan secara baik mengenai apa yang kita harapkan darinya. Dalam kasus sahabat saya di atas, berarti bagaimana dia bisa meluluhkan hati ibu mertuanya agar mau juga mengerti kondisi yang harus dijalani keuarganya. Tidak sendirian tentunya, si suami pun harus ikut membantu dan juga berkomunikasi langsung dengan sang ibu. Bisa jadi butuh beberapa tahapan. Bisa jadi juga memakan waktu yang panjang. Tapi, apa yang bisa dicoba jika sama sekali tidak ada yang kita mulai.
Lalu apa kaitannya dengan hiu-hiu tadi? Mungkin akan lebih jelas setelah saya ceritakan isi film dokumenter lainnya yang belum lama ini saya beli dan tonton. Judulnya “Grizzly”. Salah satu episode dari serial Wildlife Specials produksi BBC.
Adalah Jeff Turner, seorang pembuat film asal Kanada. Ia telah menghabiskan 15 tahun terakhir hidupnya untuk mempelajari karakter beruang Grizzly, si beruang ganas berbulu coklat yang banyak ditemukan di wilayah Amerika Utara. Karnivora besar yang kuat, cepat, dan banyak akal. Dengan bobot sekitar 500 kg, ia bisa berlari secepat lari seekor kuda saat memburu mangsanya.
Grizzly adalah binatang yang cenderung individual dan soliter. Tapi Turner menemukan bahwa grizzly juga memiliki sisi lembut dan toleran terhadap kehadiran dirinya sebagai manusia. Dalam film itu Turner mengajarkan bagaimana caranya agar bisa berada sedekat mungkin dengan grizzly. Dan memang menakjubkan, melihat ia dengan santai mengambil gambar di tengah beberapa ekor beruang yang sedang berburu dan berpesta ikan salmon di sebuah sungai. Atau begitu dekatnya ia dengan dua ekor beruang, induk dan anaknya yang berusia remaja, yang sedang memakan pucuk-pucuk rerumputan. Bahkan salah satu grizzly itu mendekati kamera Turner dan menciumi lensanya.
Ah… hiu dan beruang yang buas pun, yang tindakan-tindakan mereka lebih dikarenakan oleh insting dan kebiasaan, memiliki sebuah sisi yang bisa mengantarkan kita untuk berada sangat dekat dengan mereka. Berarti demikian juga dengan manusia yang dibekali dengan nurani dan juga akal. Pasti juga mempunyai sisi atau celah, yang bahkan tidak hanya satu, untuk kita masuki agar kita bisa saling memahami.
Lalu apa yang menghalangi kita hingga kita tidak bisa melakukannya? Ada banyak hal. Ego kita yang begitu besar. Ketakutan yang tidak wajar akan hal yang tengah kita hadapi, sama seperti pikiran kita yang dipenuhi ketakutan akan keganasan hiu dan beruang. Keengganan. Banyak hal. Banyak faktor dan variabel. Dan sering kali kita membiarkan diri kita terkungkung dengan itu semua.
Sebuah kutipan panjang dari kata-kata Jeff Turner di penghujung film tadi, “Ketika aku bertemu beruang ini 13 tahun yang lalu, aku hanya tahu sedikit tentang grizzly. Hanya tahu mereka bisa berbahaya. Tapi aku belajar alangkah lembut dan tenangnya grizzly. Jadi ketika ia mendatangiku, aku tidak takut. Dari ratusan pertemuan dengan mereka selama bertahun-tahun, apa yang paling mengesankanku adalah toleransi mereka. Aku merasa sering diterima di dunia mereka. Dengan membiarkan aku dekat, aku jadi kagum karena menyadari bahwa beruang seperti kita. Mereka semua individu dengan berbagai karakter. Memang mudah melihat dalam diri mereka, cerminan dari kehidupan kita. Namun ketakutan kita menghalangi kita untuk menghargai kesamaan itu. Seperti kata orang, bahwa kita hanya melindungi apa yang kita sayangi, dan kita hanya menyayangi apa yang kita pahami. Aku tak ingin hidup di dunia tanpa grizzly. Jadi aku berharap agar kita semua memulai untuk memahami. Berbagai wajah dari hewan yang indah ini.”
Bandung, 17 November 2009
Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku