Oleh: birusamudera | April 3, 2010

Epitaf

“Mengapa kita harus ke sini?”

“Mengapa bertanya seperti itu?” tanyaku balik.

“Aku takut. Tempat seperti ini selalu membuatku takut.”

“Duduklah!” pintaku.

Lalu hening menjadi jeda seketika. Kami duduk di atas semacam tembok yang rendah dan tidak panjang, yang sengaja dibuat sebagai tempat duduk. Hanya cukup untuk kami berdua. Ya Tuhan, rasanya sudah begitu lama semenjak terakhir kali menginjakkan kaki di sini. Rindukah Engkau kepadaku?

Sehelai kelopak kemboja meluruh. Melintas jatuh. Nara merapat ke arahku. Nampak dingin agak mengganggunya dan tak menggubris mantel hangat yang ia kenakan.

“Apa yang engkau takutkan, Nara?”

“Entahlah. Mungkin karena aku terlalu banyak menonton film-film horor sewaktu kecil. Atau kehilangan, mungkin. Rasa khawatir akan kehilangan, terutama kehilangan orang-orang yang kita cintai. Atau mungkin juga, aku takut pada kematian itu sendiri, Jalu. Lagi pula, kenapa harus sepagi ini sih?”

Langit masih gelap, memang. Hanya di timur sana nampak mulai terang kebiruan. Sunyi. Hanya sesekali satu dua orang melintas di jalan kecil, tak jauh dari tempat kami duduk. Ibu-ibu yang akan pergi ke pasar atau bapak-bapak yang akan berangkat kerja.

“Maaf, Nara. Setiap aku ke sini, aku seringkali memilih waktu seperti ini. Seusai sholat shubuh. Bagiku saat fajar adalah saat yang paling menenangkan. Tanpa perlu berhadapan dengan sekelompok ibu-ibu atau pun anak-anak, yang meminta-minta hampir tanpa melakukan sesuatu. Aku bisa agak berlama-lama di sini. Merenung. Berbincang dengan seseorang yang sering aku rindukan kehadirannya.”

Nara memandangiku. Ada sejumlah tanya di matanya. Tapi, ia nampak lebih memilih untuk diam.

“Setiap kali aku pulang ke rumah, setiap kali aku mendengar ada seseorang yang pergi meninggalkan kehidupan, setiap kali itu pula aku berusaha menyempatkan diri untuk berkunjung.”

“Baru seminggu yang lalu bukan, ada seorang kawanmu yang meninggal? Akibat hydrocephalus itu?”

“Ya…”

“Ya, Jalu. Harinya bersamaan dengan meninggalnya ayah dari seorang temanku juga. Padahal sehari sebelumnya aku baru saja menengok seorang teman lain yang baru saja melahirkan. Hhhhhh… Selalu seperti itu kah? Setiap ada yang datang, selalu ada yang pergi. Jangan-jangan, jumlah orang yang ada dalam kehidupan kita hanya segitu-segitu saja. Tidak lebih, tidak kurang.”

“Bisa jadi. Tapi yang jelas, siapa yang datang, siapa yang tinggal, dan siapa yang pergi, semuanya sudah ditetapkan. Ini hanyalah sebuah pergiliran dan rutinitas. Seperti saat kita dipertemukan. Kemudian engkau memberi banyak warna dalam hidupku. Dan suatu saat nanti, masing-masing dari kita akan merasakan kehilangan. Aku selalu sadar bahwa cepat atau lambat, akan tiba saatnya kita berpisah. Aku hanya berharap bahwa kematianlah satu-satunya alasan untuk itu. Bukan “kematian kecil” yang menyebabkan salah seorang dari kita meninggalkan yang lainnya, untuk menjalani kehidupan lain di dunia yang sama.”

“Menyedihkan.”

“Memang, Nara. Tapi nyata, dan harus kita hadapi. Kita pergi dan menempuh perjalanan, serta menghadapi segala kesulitannya. Bukan untuk apa-apa sesungguhnya. Karena tujuan dari setiap perjalanan adalah kembali pulang dengan selamat. Dan di sinilah tempat kita akan kembali.”

Kemudian kami larut dengan pikiran masing-masing. Diam. Lima menit, mulai terdengar kicau burung dan kepak sayapnya saat berloncatan dari dahan ke dahan. Sepuluh menit, tak terasa semakin banyak orang yang melintas. Lima belas menit, langit sudah demikian terang. Dingin sudah beringsut perlahan semenjak tadi.

“Sampai kapan kita di sini, Jalu?”

Aku menengok dan memandang wajahnya. Teduh, meski ada sedikit cemas di sana.

”Kamu sudah ingin pergi dari sini?”

“Ya. Walau pun terang, tempat ini masih menakutkan bagiku.”

“Baiklah. Beri aku sedikit lagi waktu untuk berdoa.”

Aku bangkit dari dudukku. Lalu berjongkok di samping pusara berhias marmer, yang tetap diam membisu di hadapan kami semenjak tadi. Tanganku mengelus pelan permukaannya. Sementara bibirku bergerak lambat, melafadzkan doa tanpa suara. Aku rindu. Rindu akan senyumanmu. Rindu mendengar senandung dan petikan gitarmu. Ah… aku rindu wajah tuamu di saat terakhir aku melihatmu.

Nara telah berada di sampingku saat aku menutup doaku. Pandangnya begitu melekat pada susunan nama yang tertulis di batu nisan.

“Dia Papamu?”

“Ya, inilah makamnya. Dia yang pernah aku ceritakan kepadamu.”

Aku pun berdiri, menggamit tangannya dan mengajaknya pergi dari tempat ini.

Jakarta, 23 Februari 2010

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.