Oleh: birusamudera | April 3, 2010

Pulang

Akhir-akhir ini saya jadi sering kepikiran tentang “pulang”. Bahkan dalam beberapa tulisan saya sebelumnya, sedikit atau banyak, ada menyinggung tentang itu. Ada sebuah rasa yang menggemuruh di dada ini. Mungkin ini berbanding lurus dengan pertambahan usia saya yang akan menyentuh angka 32. Itu berarti rentang waktu saya untuk mengembara, bermain, dan belajar, sudah demikian menyempit. Saya semakin dekat dengan “rumah”.

Ibarat seseorang yang merantau jauh, lalu ia kembali ke awal. Ke tujuan akhirnya. Pulang, ke tempat di mana ia bermula. Ada kegembiraan dalam hatinya, seperti yang dirasakan hati ini. Rasa gembira karena ada kerinduan yang akan tertuntaskan. Ada rasa tidak sabar untuk bertemu kembali. Maka semakin dekat saya dengan rumah, detak jantung itu semakin kencang.

Itu jika saya pulang ke rumah yang sebenarnya. Lalu jika pengembaraan itu adalah kehidupan yang saya jalani, dan rumah yang saya tuju adalah Allah yang telah menciptakan? Entah. Campur aduk rasanya. Mesti ada rindu di situ. Ada cinta yang terbendung. Ada rasa ingin tahu, seperti apa “Wajah Yang Tercinta” itu. Wajah yang sesungguhnya pernah saya pandang saat masih berupa ruh yang belum ditiupkan ke dalam rahim seorang ibu. Wajah dari Ia yang bertanya kepada seluruh ruh manusia dan mengambil kesaksian, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”

Namun, tidak melulu itu. Ada tersisip pula cemas. Seperti anak kecil yang pergi keluar rumah dan bermain. Setiap kali wujud saya mulai terlepas dari pandangan Ibu, maka Ibu akan memanggil dan mengingatkan untuk tidak bermain terlalu jauh. Namun ketidaktahuan dan rasa ingin tahu, malah memancing saya untuk bermain jauh dan semakin jauh dari rumah. Bahkan, ketika rasa ingin tahu itu sudah terpenuhi sekalipun, ada godaan yang membuat saya ingin mengulangnya. Hingga waktunya saya pulang dan menemukan Ibu yang sedang marah, lalu menjewer kuping saya. Saya pun kena hukuman. Kemudian Ibu memaafkan saya, tapi di hari lain kejadian itu terulang lagi.

Seperti itu juga kehidupan ini bukan? Saya menjauh. Bisa karena tidak tahu, atau pun tahu tapi bodoh. Kemudian saya kena “jewer”. Allah tidak ingin saya jauh dari-Nya. Tapi saya bandel lagi, dijewer lagi, bandel lagi, dijewer lagi, dan lagi. Selalu seperti itu.

Maka, wajarlah jika kecemasan itu bersemayam di dalam hati. Saya hanya berharap, saat kepulangan saya nanti, saya berada di bagian yang terbaik dalam hidup saya. Puncak kejayaan saya sebagai seorang hamba. Dan bukan dalam pengingkaran terhadap jawaban yang pernah ruh saya berikan kepada Allah, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Semoga.

Jakarta, 4 April 2010 – 01:49 WIB

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.