Jauh, Nara… Apa kabar dirimu di sana?
Jarak. Waktu. Ruang. Kekosongan. Selalu ada kerinduan yang tersisip di dalamnya.
Tapi tidak melulu hanya itu. Rentang jarak dan waktu, juga memberikan ruang untuk berpikir. Kekosongan, bisa menjadi tempat terbaik untuk mencerna sesuatu. Tanpa perlu terlalu khawatir dengan segala bias subyektifitas, yang seringkali mengaburkan pandangan kita. Hingga membuat kita seperti kehilangan arah.
Berada jauh darimu, memberiku ruang itu, Nara. Ruang yang cukup untuk mengurai segala yang telah terjadi di antara kita selama ini. Mencerna segala rasa yang ternyata turut berubah, seiring perjalanan waktu. Dan itu tentu menimbulkan satu dua pertanyaan.
“Mengapa aku?”, salah satunya. Mengapa kamu? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan waktu lama untuk memikirkannya. Karena aku kembali tak menemukan jawaban selain yang pernah kukatakan padamu, “Aku tak tahu jawabannya.”
Aku memang tak pernah ingin mencintai seseorang dikarenakan sekedar “apa”, “mengapa”, atau “siapa”. Karena setahuku, memang tidak pernah dibutuhkan alasan untuk itu. Alasan hanya akan membatasi cinta itu sendiri. Karena, jika suatu saat alasan itu sudah tak ada lagi, berarti berakhir pula cinta itu. Ah, naif rasanya jika seperti itu.
Sementara Nara… Keadaan yang melingkupi kita selama ini, kupikir bukan pula penyebab utama semua ini. Pertemuan kita, kemudian kedekatan kita sebagai teman misalnya, aku lebih menyebutnya sebagai jalan yang dibukakan. Dengan sejumlah petunjuk di dalamnya. Aku hanya mengikuti itu semua. Bukankah hidup memang seperti itu adanya. Seperti teka-teki, hidup terdiri dari sekumpulan petunjuk. Manusia hanya perlu mengikuti petunjuk-petunjuk yang Tuhan berikan. Menjalaninya dan mencari tahu, sekiranya anugerah apa yang akan Ia berikan. Bisa jadi itu adalah sesuatu yang kita harapkan. Bisa jadi juga sesuatu yang lebih besar dari itu. Toh Tuhan memang tidak pernah memberi sesuatu kurang dari yang kita harapkan. Perasaan kurang sering timbul karena kita terlalu terpaku pada harapan kita dan tidak melihat betapa besarnya sesuatu yang kita dapatkan.
Kamu tahu kan, Nara… Mencintai seseorang itu, selalu menjadi hal yang luar biasa. Terlepas dari berbalas atau tidaknya perasaan itu. Adalah kegembiraan tersendiri bisa melakukan sesuatu untukmu. Memberimu sedikit perhatian. Meski kecil dan mungkin tak terasa punya arti.
Yang seperti itu seringkali muncul tiba-tiba dan spontan. Begitu saja. Karena memang keadaan yang memungkinkan untuk itu. Maka, di hadapanmu aku bisa menjadi diriku apa adanya. Tanpa perlu basa-basi. Yang dengan mudah akan melakukan sesuatu tanpa perlu banyak berpikir apakah hal itu akan menarik perhatianmu atau tidak.
Aku tak merasa perlu menutupi kelemahan dan kekuranganku di hadapanmu. Aku yang seketika bisa bertingkah seperti anak kecil. Bisa mengejek dan menggodamu, dengan lepas dan tanpa tendensi. Sama sekali tak perlu bungkus yang bernama kepura-puraan itu.
Seperti itulah setidaknya, Nara. Toh sependek dan sepanjang apa pun aku menulis, cinta tak akan pernah cukup didefinisikan dengan kata-kata. Lagipula, jika kita tarik kembali, di pangkal semua ini adalah aku yang sedang berdiri dengan sebuah pengharapan. Seorang lelaki dengan impian sederhananya: mencintai dan dicintai.
Lalu, tentang dunia kita masing-masing, sepenuhnya memang berbeda. Tapi ada ruang bernama hati yang dapat mempertemukan dan menyatukan kita. Dan saat ini, aku sedang menunggumu di dalamnya.
Purwokerto – Bandung, 13 Februari 2010
Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku