Tidurlah, Nara. Lelap. Alammu saat ini tak lagi berbatas untuk kau jelajahi. Sementara, biarkan aku membuka kembali catatan-catatanku. Mencoba mengulang segala hafalanku tentangmu. Aku memulainya dengan mengingat wangi rambutmu. Membaca dan membacanya lagi. Mengalur setiap helainya, lalu menambahkan setiap yang memutih ke dalam catatanku.
Begitu juga dengan setiap kerut yang mulai muncul di dahi dan ekor matamu. Biarlah. Biar tetap seperti itu. Tak perlu bermacam pulasan kosmetik. Karena Nara, aku begitu suka bermain di dalamnya. Menelusuri ruang-ruang kenangan. Meski kadang terasa seperti labirin yang menjebak dan membuatku tak ingin beranjak. Tapi justru itu semua yang membuatku bisa bertahan hingga kini, menjalani kehidupan yang penuh liku dan kejutan. Dan aku akan menghadapinya terus, hingga waktu yang ditentukan bagiku untuk pergi dari dunia ini.
Hey…! Lihat itu! Satu jerawat nampak malu-malu muncul di pipi kananmu. Ah, kau sudah bukan anak muda lagi, Nara. Atau memang karena sedemikian besarnya cintamu kepadaku? Haha… Kalau itu, aku sudah tahu. Tak perlu lagi kau tunjukkan lewat jerawat itu. Aku tahu, bahkan di setiap detik semenjak kau turut menjejakkan kakimu, menyejajari langkahku. Aku selalu tahu dari senyum yang terlukis di bibirmu meski terkadang letihmu demikian memuncak. Aku tahu.
Lalu bibir itu… Jelas sudah tak seranum dulu. Perlahan menghitam, dan nampak mulai muncul rekahan-rekahan mengering di beberapa bagiannya. Tapi bukankah keindahan bibir manusia tercermin dari kata-kata. Seperti kata-kata yang selalu mengalir jernih dari bibirmu. Kata-kata yang meneduhkan. Kata-kata yang membangkitkan. Kata-kata yang selalu mengingatkan diri kita akan siapa kita. Kata-kata yang juga berupa doa. Yang tegas, tapi sekaligus menyabarkan. Yang memaafkan banyak khilaf dan kesalahan.
Ah… itu semua salah satu dari sekian banyak hal yang selalu aku syukuri, Nara. Dan kuharap, kau pun mensyukurinya. Karena apa lagi? Apa lagi yang perlu kita cari setelah kita memiliki semua ini? Cinta yang menumbuhkan. Kebaikan yang melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya. Semuanya berkah yang dianugerahkan kepada kita. Sebagian besar bahkan tanpa perlu kita minta. Apalagi yang perlu kita minta disaat usia kita tak lagi muda seperti ini, di mana masa kepulangan kita telah semakin dekat? Cukuplah kita memohon agar tetap diberikan keteguhan di atas jalan dan keyakinan kita selama ini. Dan inilah saat terbaiknya…
Perlahan Jalu memegang dan menguncangkan pundak Nara dengan lembut. Satu kali… Dua kali…
“Hhhmmmmm….”
Hanya gumam kecil terdengar dari bibirnya.
“Bangun, Nara. Ini giliran sepertiga malammu. Bermunajatlah. Lampiaskan rindumu sepuasnya.”
Kelopak mata Nara pun terbuka. Selarik senyum menyungging di bibirnya.
Jakarta, 16 April 2011 – 03:57 WIB
Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku