Oleh: birusamudera | Juni 21, 2011

Syakir dan Tentangnya

Entah berapa lama saya sudah membiarkan kursor pada aplikasi pengolah kata ini berkedip-kedip begitu saja. Rasanya sulit mencari kata yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya semenjak saya terbangun untuk melakukan qiyammul lail, hingga saya menyalakan laptop saya dan termenung beberapa jenak di hadapannya.

Hari ini merupakan hari kelahiran almarhum Papa 84 tahun yang lalu. Tapi hari ini juga, saya akan mengantar jasad sahabat saya, Ahmad Syakir, ke peristirahatan terakhirnya. Penyakit asma yang bertahun-tahun diderita, akhirnya menjadi jalan baginya untuk pulang. Saya didera rindu dua kali lipat. Dan ini bukan sesuatu yang mudah.

Saya sudah mengenalnya selama 4 tahun. Sama-sama bekerja di kantor dan dalam bidang yang sama. Bahkan saya dan almarhum pernah tinggal satu atap, setidaknya 1,5 tahun lamanya. Kami tinggal di satu kos bersama teman-teman lainnya, termasuk istrinya sebelum mereka menikah.

Ada banyak hal jika ingin sekedar bercerita tentangnya. Apalagi kami sudah seperti keluarga. Saya ingat pernah menumpang makan di rumahnya, di sebuah malam lebaran. Waktu itu saya tidak bisa pulang kampung dikarenakan oleh pekerjaan. Saya begitu rindu pada rumah dan Mama. Maka saya tak menolak ketika Syakir mengajak untuk mampir ke rumah dan bertemu keluarganya.

Setidaknya ada dua hal dari almarhum yang begitu melekat di ingatan saya. Yang pertama, suatu hari ia mendatangi saya sambil memberikan dua buah buku. Salah satunya adalah buku kumpulan doa-doa yang ditulis oleh almarhum ayahnya. Ketika itulah saya baru tahu bahwa almarhum ayahnya adalah seorang ulama terkenal di masanya. Waktu saya tanya kenapa dia tiba-tiba dia memberi saya buku, dia bilang itu karena dia melihat saya gemar sekali membeli dan membaca buku-buku.

Kemudian hal yang kedua, jika saya sedang dengannya berdua saja, maka tidak lama obrolan kami akan membahas tentang almarhum ayah kami masing-masing. Seperti anak kecil, kami akan saling mebanggakan diri. Membanggakan sosok mendiang ayah yang kami rindukan. Sering kali terasa naïf, tapi kami menikmatinya.

Sekarang, saya merasa sangat kehilangan dia. Apalagi, beberapa bulan belakangan saya dan beberapa teman lainnya sering menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpul. Dan kegembiraan kami begitu meluap ketika muncul dua bayi kembar mungil dari buah cinta Syakir dan Windah, istrinya. Dua sosok yang baru berusia 4 bulan, yang membuat perasaan saya lebih campur aduk lagi saat melihat mereka.

Memang tidak ada satu hal pun yang abadi dari segala ciptaan-Nya. Apa yang berasal dari-Nya akan kembali pula kepada-Nya. Selamat jalan, sahabat. Istirahatlah dengan tenang.

Jakarta, 8 Mei 2011 – 05:00 WIB

Biru Samudera
semua orang adalah guruku
alam raya sekolahku


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.